2 Mei 2012, jam 16:00 WIB.
Tepat 22 jam yang lalu, band hardrock asal Amerika membatalkan konsernya di Carnaval Beach Ancol, Jakarta. Konser yang seharusnya dibuka oleh Superman Is Dead dan ditonton oleh hampir 15 ribu penonton itu akhirnya hanya menyisakan kekecewaan di hati fans Avenged…
Tidak adanya perjanjian tertulis sejak awal kerjasama dengan promotor ternyata fatal. Posisi gue dan teman-teman lainnya menjadi lemah. Kenapa lemah? Karena walaupun kami sudah menjalankan kewajiban kami, kami tidak bisa mendapatkan hak kami. Hak seperti apa? Well, hingga sekarang kami tidak tahu apakah kami akan mendapatkan bayaran. We got nothing, so far, except a media pass. Was that enough? Hell no. Media pass memiliki akses yg berbeda dengan staff pass. Hari pertama, kami ngga bisa masuk karena tim security menganggap kami orang media. Selama tidak ada koordinasi dari promotor dan Head Security Team, kami ngga akan bisa masuk. Akhirnya kami masuk lewat loading dock, karena dibantu seorang teman. Masalah yg sama terjadi hari Minggu dan kami ketemu Head Security Team. Diizinkan masuk pas SJ udah lagu ketiga. Syulit ya. Seharusnya dari awal kami dikasih staff pass, bukan media pass. Dilihat dari scope of work juga sama sekali bukan kerja media partner, tetapi kerja panitia. Kami berhasil menjual 3500 tiket. Range harga tiket itu 500,000-1,700,000. You do the math.
Lebih jauh lagi, karena kami dianggap media, tidak dapat konsumsi. Tiap hari keluar duit sendiri supaya bisa makan. Hotel? Bayar sendiri. Transport? Bayar sendiri.
Ketika gue ‘cuma’ jadi usher di promotor lain jaman dulu, gue masih diperlakukan lebih baik. Gue dikasih briefing, gue dapet konsumsi, sesekali gue dicek apakah mengalami kesulitan and is everything under control, gue dapet bayaran, bahkan ada evaluasi akhir. Intinya, gue diperhatikan dan gue diapresiasi. Kemarin? Ndasmu.
Tidak ada booth yg dijanjikan di hari pertama konser. Booth yg ada di hari kedua dan ketiga itu juga ngga bisa disebut layak. Ribuan ticket and all we got was 4 chairs and 4 tables.
If it was a voluntary work, we seriously and literally got nothing. Gue pernah kerja volunteer, tapi apa yg gue dapet sebagai bayarannya itu sebanding. Gue dikasih briefing, gue dievaluasi, gue dibimbing, dididik, diperhatikan, diapresiasi. Jadi volunteer itu bayarannya apresiasi, bukan dicuekin dan diperlakukan kayak tai.
Gue bukan anak kemarin sore yang dikasih pass doang buat 3 hari seneng. Gue udah 3 tahun dididik sama sebuah promotor besar. I know how to get shits done in music industry. I know what I deserve. Alkisah seorang teman bilang bahwa gue tidak boleh membanding-bandingkan, karena setiap promotor pasti berbeda. Well, my dear friend, apresiasi terhadap orang itu suatu hal yg basic. Basic, tapi esensial. Semua orang yg pernah sekolah mestinya tau itu dan gue yakin mereka sebenernya terpelajar.
There won’t be next time with them. This is the first and the last. Enough is enough.
A quick run-down should you ever find yourself trapped in a horror movie and would prefer to live to tell the tale.
1. Don’t have sex.
- Seriously
- Abstinence is key.
2. Don’t go out with people you’ve just met that day.
- I don’t care how good he says his weed is
- he is…
STOP SCROLLING FOR TWO SECONDS AND READ THIS
This is my cousin Jon. He’s only 12 years old but was born premature, has stage 2 lymphoma and just came out of the closet. Everyone at school teases him for being small for his age, gay, and having cancer. He started chemotherapy treatment and quickly began to get better. After a month he was strong enough to go back to school.
Thursday, on his first day back in school, three boys followed him home and beat him with a baseball bat. They took a pocketknife and carved the words ‘faggot cancer baby’ into his leg.
Jon was rushed to the hospital and is in stable, but rough condition.
Last night he told me he wanted to kill himself. I couldn’t do anything but cry.
Please pray for Jon. He has the biggest heart and would do the same for you.
(via primaera)
- LIKE
- how did Ravenclaw and Gryffindor and Slytherin and Hufflepuff meet
- how did they come up with the idea to build a school
- were they drunk on Fiyahwhiskey when Helga went all, “GUYS I FEEL BAD FOR THE POOR CHILDREN WHO DON’T HAVE PARENTS TO EDUCATE THEM PROPERLY ON MAGIC”
- to which Salazar went “WE SHOULD START A SCHOOL!”
- and Gordric, since he’s Salazar’s bro and all, went all “WE SHOULD TOTALLY START A SCHOOL!”
- and Rowena chimed in with “WE SHOULD CALL IT PUZZLES.”
- and they built a school and shaped childrens’ lives because in those times there weren’t any Sims they could control lives with
- and you can’t build a Chamber of Secrets in a Sims game anyway tbqh
(via blackbirdbaroness)








